Pentingnya Penerjemahan Novel Berbahasa Prancis

Prancis dikenal sebagai penyumbang karya sastra kelas dunia. Para penggila sastra pasti tak asing menyebut Voltaire, Flaubert, Proust, Dumas, Hugo, dan Camus. Berkat kesusastraannya, Prancis sempat menjadi kiblat para pengarang di seluruh dunia selama berabad-abad.

Di Indonesia, nama-nama di atas hingga saat ini masih sering kita jumpai di toko buku. Dalam hal ini kita harus berterima kasih atas kerja para penerjemah. Menerjemahkan bukan perkara mudah, apalagi jika yang diterjemahkan adalah karya sastra. Ditambah lagi bahasa Prancis terkenal sebagai bahasa yang sulit dipelajari. Namun perlu diketahui juga jika tidak semua novel Prancis yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dialihbahasakan langsung dari teks berbahasa Prancis. Ternyata banyak juga yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dari terjemahan novel tersebut dalam bahasa Inggris. Jadi bagi yang paham bahasa Prancis dan kebetulan menemukan hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia yang tidak selaras dengan teks aslinya, harap maklum saja ya…He-he. Meskipun sayang sekali memang, jika pembaca terpaksa membeli novel-novel Prancis tersebut dengan terjemahan yang kurang pas.

Bicara soal penerjemahan novel-novel Prancis, hampir semua karya yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia datang dari masa sebelum Perang Dunia II, padahal kesustraan Prancis sebenarnya terus berkembang. Prancis masih melahirkan pengarang-pengarang hebat. Ribuan kompetisi dan penghargaan diberikan kepada para pengarang yang berkarir di Prancis. Maylis De Kerangal, Antoine Volodine, Abdellah Taïa, Virginie Despentes, Sylvie Germain merupakan beberapa nama dalam kesusastraan Prancis hari ini. Mereka datang dari berbagai genre. Sayangnya, karya mereka sulit ditemukan di toko buku-toko buku di Indonesia. Beberapa pengarang Prancis mengakui bahwa industri buku di Prancis telah banyak berubah. Sulit untuk menjual buku di luar negeri. Di Indonesia sendiri, dan demikian pula di negara-negara lainnya, penjualan novel asing didominasi oleh novel-novel berbahasa Inggris terbitan Amerika Serikat atau Inggris. Lalu apakah novel-novel Prancis tak lagi penting?

Salah besar jika mengiyakan. Gambaran Prancis yang multikultural terwakilkan melalui novel-novelnya di era kontemporer. Pengarang-pengarang Prancis produktif melahirkan keragaman genre dan mengangkat berbagai isu. Karya-karya tersebut umumnya berbicara mengenai identitas, realitas sosial dan politik dan disertai dengan upaya untuk menunjukkan kekhasan masing-masing pengarang. Abdella Taïa misalnya, sebagai keturunan Maroko, ia kerap mengangkat isu komunitas marjinal, misalnya tentang keturunan Afrika, muslim, dan homoseksual di Prancis. Para pengarang Prancis juga terkenal penuh ide dan doyan berekperimen baik secara linguistik maupun filosofis.

Nah, nama-nama baru dalam blantika kesustraan Prancis itu sudah selayaknya memberi pilihan menu baru bagi pembaca sastra di Indonesia. Sayang sekali jika eksplorasi kita terhenti pada Sartre dan Camus. Kesusastraan Prancis pun nyatanya masih berjaya. Buktinya, penghargaan nobel sastra 2014 lalu jatuh ke tangan Patrick Modiano, salah satu pionir kesusastraan kontemporer di Prancis yang namanya mungkin tak kenal oleh pembaca sastra di Indonesia.

Kita tentunya boleh berharap semoga penerbit-penerbit di Indonesia bersedia memasarkan novel-novel bagus tersebut untuk pembaca Indonesia dan sekaligus berarti bahwa kita membutuhkan penerjemah-penerjemah andal yang mampu menerjemahkan dari bahasa aslinya yaitu bahasa Prancis. Nah, Anda sendiri, adakah novel Prancis yang ingin sekali Anda baca?